Ukuran mulia atau
tercelanya manusia tidaklah terletak pada kaya dan miskin, lapang dan sempit,
ataubahagia dan derita, tetapi ukuran itu terletak pada sikap dalam menghadapi
dan menjalaninya, apakah dengan ketaqwaan atau kedurhakaan.
Allah memuji Nabi
sulaiman AS yang berlimpah harta dan berkuasa tetapi mengutuk qarun yang mewah
dan bermegah. Lalu Dia memuliakan nabi Ayyub AS yang berduka sakit dan papa. Ia
kehilangan segala miliknya dan orang-orang yang dicintainya lalu didera
penyakit yang amat memayahkan. Tetapi semua itu tidak pernah mengurangi
ketaatannya kepada Allah. Dia menghadapi semua ujian berat itu dengan kesabaran
yang penuh. Kalaupun dia mengadu kalimatnya bernada ridha dan mesra,”dan
(ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku),
sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha
Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun memperkenankan
seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami
kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka,
sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua
yang menyembah Allah”. (QS. 21; Al-Anbiya’ ayat 83-84)
Allah memuji dalam Surat
38; Shaad ayat 44 yang artinya:” Sesungguhnya Kami dapati
dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat
ta`at (kepada Tuhannya)”.
Jadi ukuran kemuliaan
nabi Ayyub didalam ayat di atas adalah kesabarannya, bukan kesusahannya. Begitu
juga ukuran kemuliaan Nabi Sulaiman bukan terdapat pada kekayaannya tetapoi
pada rasa sukurnya. Begitu juga Qarun yang hilang kemuliaannya karena
kesombongannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar