Sabtu, 29 April 2017

UKURAN KEMULIAAN

Ukuran mulia atau tercelanya manusia tidaklah terletak pada kaya dan miskin, lapang dan sempit, ataubahagia dan derita, tetapi ukuran itu terletak pada sikap dalam menghadapi dan menjalaninya, apakah dengan ketaqwaan atau kedurhakaan.

Allah memuji Nabi sulaiman AS yang berlimpah harta dan berkuasa tetapi mengutuk qarun yang mewah dan bermegah. Lalu Dia memuliakan nabi Ayyub AS yang berduka sakit dan papa. Ia kehilangan segala miliknya dan orang-orang yang dicintainya lalu didera penyakit yang amat memayahkan. Tetapi semua itu tidak pernah mengurangi ketaatannya kepada Allah. Dia menghadapi semua ujian berat itu dengan kesabaran yang penuh. Kalaupun dia mengadu kalimatnya bernada ridha dan mesra,”dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”. (QS. 21; Al-Anbiya’ ayat 83-84)

Allah memuji dalam Surat 38; Shaad ayat 44 yang artinya:” Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta`at (kepada Tuhannya)”.


Jadi ukuran kemuliaan nabi Ayyub didalam ayat di atas adalah kesabarannya, bukan kesusahannya. Begitu juga ukuran kemuliaan Nabi Sulaiman bukan terdapat pada kekayaannya tetapoi pada rasa sukurnya. Begitu juga Qarun yang hilang kemuliaannya karena kesombongannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar