Sabtu, 29 April 2017

CINTA KASIH YANG MENGUBUR DENDAM

Ketika Malaikat jibril datang membawa malaikat penjaga gunung Abu Qubais dan Qa’aiqa’an yang mengapit kota Thaif, setelah penduduk negeri Thaif itu mendustakan,  menyakiti, mengusir Rasusullah  dan menyebabkan tubuh Rasulullah terluka.  Jibril mengatakan:”Allah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat oleh kaummu kepadamu, maka dia mengutus malaikat penjaga gunung ini untuk engkau perintahkan sesukamu”.  Malaikat penjaga gunung itupun memberi salam dan berkata kepada Rasulullah:”Apapun yang engkau perintahkan akan saya lakukan. Jika engkau suka, saya sanggup membenturkan kedua gunung di samping kota itu agar menimpa dan menghancurkan kota itu sehingga sipapun yang tinggal di antara kedua gunung itu akan tertindih. Atau kalau tidak seperti itu, apa saja hukuman  yang engkau inginkan terhadap mereka, saya siap melaksanakannya”.

Namun apa respon dan jawaban Rasulullah terhadap tawaran malaikat tersebut sangat mengharukan, karena tidak ada sedikitpun dendam di dalam hatinya, dan seolah-olah dendam itu telah terkubur dalam-dalam oleh rasa cinta dan kasih sayangnya, dengan begitu tulus dia menjawab:”Sungguh yang saya inginkan adalah agar saya diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab azab. Saya hanya berharap kepada Allah jika mereka tidak mau menerima Islam, semoga pada suatu saat nanti anak-anak mereka akan menjadi orang orang yang menyembah dan beribadah kepada Allah”.


Peristiwa ini terjadi sesudah nabi bermunajat kepada Allah dengan kata-kata yang sangat menakjubkan hati  dan mengandung plajaran yang sangat indah dan bermakna , di mana beliau tidak menyalahkan orang lain sesikitpun dalam peristiwa penganiaan terhadap diri karena menjalankan dakwah Islam, Rasulullah berkata:” Ya Allah, aku mengadukan kepadamu akan lemahnya kekuatanku dan terbatasnya upayaku dalam mengajak manusia. Wahai Tuhan yang paling penyayang dari sekalian yang penyayang, Engkaulah Tuhan dari orang  orang yang lemah, dan Engkaulah Tuhanku.  Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku? Apakah  kepada orang negeri yang jauh yang menghinakanku, atau kepada musuh di negeriku yang menguasai urusanku. Aku tidak perduli apapun yang menimpa diriku salama Engkau tidak marah kepadaku, malahan  afiat yang Engkau berikan lebih berharga bagiku. Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu yang menerangi seluruh langit  dan menerangi kegelapan dan dengannya menjadi baik urusan dunia dan akhirat, agar engkau tidak menurunkan kemarahan dan siksaanmu. Kepada Engkaulah aku mengadukan segala urusanku sehingga Engkau ridha. Dan tidak ada daya dan upaya, melainkan bersama-Mu”. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar