Ketika
Malaikat jibril datang membawa malaikat penjaga gunung Abu Qubais dan
Qa’aiqa’an yang mengapit kota Thaif, setelah penduduk negeri Thaif itu
mendustakan, menyakiti, mengusir
Rasusullah dan menyebabkan tubuh
Rasulullah terluka. Jibril
mengatakan:”Allah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat oleh kaummu
kepadamu, maka dia mengutus malaikat penjaga gunung ini untuk engkau perintahkan
sesukamu”. Malaikat penjaga gunung
itupun memberi salam dan berkata kepada Rasulullah:”Apapun yang engkau
perintahkan akan saya lakukan. Jika engkau suka, saya sanggup membenturkan
kedua gunung di samping kota itu agar menimpa dan menghancurkan kota itu
sehingga sipapun yang tinggal di antara kedua gunung itu akan tertindih. Atau
kalau tidak seperti itu, apa saja hukuman
yang engkau inginkan terhadap mereka, saya siap melaksanakannya”.
Namun apa
respon dan jawaban Rasulullah terhadap tawaran malaikat tersebut sangat
mengharukan, karena tidak ada sedikitpun dendam di dalam hatinya, dan
seolah-olah dendam itu telah terkubur dalam-dalam oleh rasa cinta dan kasih
sayangnya, dengan begitu tulus dia menjawab:”Sungguh yang saya inginkan adalah
agar saya diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab azab. Saya hanya
berharap kepada Allah jika mereka tidak mau menerima Islam, semoga pada suatu
saat nanti anak-anak mereka akan menjadi orang orang yang menyembah dan
beribadah kepada Allah”.
Peristiwa ini
terjadi sesudah nabi bermunajat kepada Allah dengan kata-kata yang sangat
menakjubkan hati dan mengandung plajaran
yang sangat indah dan bermakna , di mana beliau tidak menyalahkan orang lain
sesikitpun dalam peristiwa penganiaan terhadap diri karena menjalankan dakwah
Islam, Rasulullah berkata:” Ya Allah, aku mengadukan kepadamu akan lemahnya
kekuatanku dan terbatasnya upayaku dalam mengajak manusia. Wahai Tuhan yang
paling penyayang dari sekalian yang penyayang, Engkaulah Tuhan dari orang orang yang lemah, dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku?
Apakah kepada orang negeri yang jauh
yang menghinakanku, atau kepada musuh di negeriku yang menguasai urusanku. Aku
tidak perduli apapun yang menimpa diriku salama Engkau tidak marah kepadaku,
malahan afiat yang Engkau berikan lebih
berharga bagiku. Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu yang menerangi seluruh
langit dan menerangi kegelapan dan
dengannya menjadi baik urusan dunia dan akhirat, agar engkau tidak menurunkan
kemarahan dan siksaanmu. Kepada Engkaulah aku mengadukan segala urusanku
sehingga Engkau ridha. Dan tidak ada daya dan upaya, melainkan bersama-Mu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar