Sabtu, 22 April 2017

BUAH KEUTAMAAN BUDI

Subhanallah, berterima kasihlah kepada Allah yang telah menciptakan kita dalam sebaik-baik kejadian, semulia-mulia ciptaan Allah. Dilengkapi dengan akal dan hati, dibimbing dengan ajaran agama, namun kitapun diuji dengan hawa nafsu yang bekerja sama dengan kehidupan dunia dan godaan syetan. Akankah kita menjadi pemenang atau atau hanya sekedar pecundang?

Keutamaan ialah mengorbankan setiap tenaga untuk mengerjakan petunjuk akal yang waras, yang timbul dari rasa cinta dan pengharapan. Atau menghadapkan kemauan yang kuat kepada pekerjaan yang mulia setelah lebih dahulu melalui perjuangan antara mengikuti hawa nafsu yang mengajak kepada kejahatan atau akal yang mengajak kepada kebaikan.
Keyakinan yang benar yang diperkuat dengan dalil aqli dan naqli, akan melahirkan manusia yang mempunyai keutamaan budi, bijaksana dan berpandangan luas, karena di dalam diri ada dua sifat utama yaitu Syaja’ah dan iffah.
Syaja’ah adalah keberanian dalam menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan dengan siap berkorban dan menahan kesakitan dalam berjuang, diwaktu memperoleh nikmat akan menjadi orang yang dermawan dan bersyukur dan diwaktu mendapat cobaan dia akan menjadi orang yang tabah dan bertawakkal kepada Allah.
Iffah yaitu kesanggupan untuk menjaga kehormatan diri dengan menahan diri dari hal-hal yang tercela, tidak mau mengikukti ajakan nafsunya, bahkan mau mengalahkan kepantingan sendiri demi keselamatan orang lain. Sifat ifffah akan menimbulkan qana’ah, yaitu mencukupkan apa yang ada, tidak tamak. Bila sudah tidak tamak lagi maka timbullah kejujuran, bila sudah jujur akan dapat dipercaya dan bisa berlaku adil, dari rasa adil timbullah rasa kasihan dan selanjutnya akan menjadi orang yang pemaaf dan penyantun, orang yang seperti itulah orang-orang yang akan mendapatkan keutamaan dan mempunyai rasa kemanusiaan.
Besar atau kecilnya keutamaan itulah yang akan menentukan derajat manusia, apakah akan naik tingkatannya mengejar tingkatan malaikat, karena hati sanubarinya sudah seperti malaikat, atau malah akan turun kebawah, menjadi amat rendah sehingga menyerupai binatang, atau malah lebih hina dari binatang, tubuhnya masih seperti tubuh manusia, tidak mempunyai tanduk, taring atau cakar, tetapi tindak tanduknya lebih berbahanya dari pada binatang, bahkan kejahatannya tidak dapat ditiru oleh binatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar