Nikmat Allah jauh lebih
banyak dari pada keluhan dan kebutuhan kita
Solusi Allah jauh lebih
longgar dari pada kesulitan dan masalah kita
Penggantian Allah jauh
lebih mahal dari pada kehilangan kita
Ampunan Allah jauh lebih
besar dari pada dosa dosa kita
Nabi Sulaiman adalah
nama besar yang mengilaukan zaman bukan karena kekayaan dan kemaharajaannya
yang menguasai jin dan manusia serta bhurung dan aneka satwa bahkan angin bisa
jadi kendraaannya. Tetapikarena sikap dan ucapannya yang dipenuhi oleh
kesadaran yang tinggi tentang hakikat limpahan karunia Allah kepadanya.
Sebagaimana digambarkan Allah SWT dalam surat 27; an-Naml ayat 40 yang
artinya:” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan
membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala
Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata:
"Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau
mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya
dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar,
maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
Sulaiman mewariskan
kesyukuran untuk mensujudkan diri kepada sang Pencipta di setiap nikmat, dengan
kesadaran bahwa segala yang kita miliki hanylah semata-mata karunia Allah,
serta senantiasa waspada bahwa setiap karunia adalah ujian untuk melihat
siapakah diri kita sebenarnya apakah termasuk hamba yang bersyukur, atau malah
hamba yang kufur.
Sungguh bertolak belakang
sikap nabi Sulaiman AS dengan sikap Qarun yang hidup semasa dengan nabi Musa
AS. Qarun yang perbendaharaan hartanya
begitu banyak , sehingga kunci gudang penyimpanan hartanya tak sanggup dipikul
beberapa lelaki kuat. Qarun mengaku bahwa”Hanya sanya harta itu bisa menjadi
milikku, adalah disebabkan oleh ilmu yang ada padaku”. (QS. 28; Al-Qashash ayat
78). Seolah-olah olah Allah tidak berperan dalam pelimpahan kekayaan kepadanya,
dan kekayaan itu ada padanya sepenuhnya karena kehebatan dirinya. Padahal sebelum
Qarun banyak orang yang lebih kuat dan lebih kaya yang dimurkai Allah karena
keingkarannya. Maka karena Qarun tidak terbuka lagi hatinya untuk menerima
peringatan yang disampaikan kepadanya, dengan sangat mudah bagi Allah untuk
membenamkan hartanya yang banyak itu kedalam perut bumi, dengan disaksikan oleh
orang banyak. Bahkan dia sendiripun ikut tenggelam bersama hartanya, tanp-a
bisa menyelamatkan diri, dan tidak bisa ditolong oleh siapapun.
Aklhirnya orang yang
menyksikan peristiwa tersebut menyatakan,”Aduhai benarlah Allah yang
melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-Nya, dan Dia pula yang menyempitkannya. Kalau saja Allah
tidak menunjuki kita, tentu kita akan termasuk yang dibenamkan juga, Aduhai
benarlah, tiada beruntung orang yang mengingkari nikmat Allah. (QS. 28;
Al-Qashash ayat 82).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar