Sabtu, 29 April 2017

ANTARA SYUKUR DAN KUFUR

Nikmat Allah jauh lebih banyak dari pada keluhan dan kebutuhan kita
Solusi Allah jauh lebih longgar dari pada kesulitan dan masalah kita
Penggantian Allah jauh lebih mahal dari pada kehilangan kita
Ampunan Allah jauh lebih besar dari pada dosa dosa kita

Nabi Sulaiman adalah nama besar yang mengilaukan zaman bukan karena kekayaan dan kemaharajaannya yang menguasai jin dan manusia serta bhurung dan aneka satwa bahkan angin bisa jadi kendraaannya. Tetapikarena sikap dan ucapannya yang dipenuhi oleh kesadaran yang tinggi tentang hakikat limpahan karunia Allah kepadanya. Sebagaimana digambarkan Allah SWT dalam surat 27; an-Naml ayat 40 yang artinya:” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
Sulaiman mewariskan kesyukuran untuk mensujudkan diri kepada sang Pencipta di setiap nikmat, dengan kesadaran bahwa segala yang kita miliki hanylah semata-mata karunia Allah, serta senantiasa waspada bahwa setiap karunia adalah ujian untuk melihat siapakah diri kita sebenarnya apakah termasuk hamba yang bersyukur, atau malah hamba yang kufur.

Sungguh bertolak belakang sikap nabi Sulaiman AS dengan sikap Qarun yang hidup semasa dengan nabi Musa AS. Qarun  yang perbendaharaan hartanya begitu banyak , sehingga kunci gudang penyimpanan hartanya tak sanggup dipikul beberapa lelaki kuat. Qarun mengaku bahwa”Hanya sanya harta itu bisa menjadi milikku, adalah disebabkan oleh ilmu yang ada padaku”. (QS. 28; Al-Qashash ayat 78). Seolah-olah olah Allah tidak berperan dalam pelimpahan kekayaan kepadanya, dan kekayaan itu ada padanya sepenuhnya karena kehebatan dirinya. Padahal sebelum Qarun banyak orang yang lebih kuat dan lebih kaya yang dimurkai Allah karena keingkarannya. Maka karena Qarun tidak terbuka lagi hatinya untuk menerima peringatan yang disampaikan kepadanya, dengan sangat mudah bagi Allah untuk membenamkan hartanya yang banyak itu kedalam perut bumi, dengan disaksikan oleh orang banyak. Bahkan dia sendiripun ikut tenggelam bersama hartanya, tanp-a bisa menyelamatkan diri, dan tidak bisa ditolong oleh siapapun.

Aklhirnya orang yang menyksikan peristiwa tersebut menyatakan,”Aduhai benarlah Allah yang melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-Nya, dan Dia pula yang menyempitkannya. Kalau saja Allah tidak menunjuki kita, tentu kita akan termasuk yang dibenamkan juga, Aduhai benarlah, tiada beruntung orang yang mengingkari nikmat Allah. (QS. 28; Al-Qashash ayat 82).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar