10 DZULHIJJAH (HARI QURBAN)
1. Meninggalkan Muzdalifah menuju Mina sebelum terbitnya matahari dengan penuh ketenangan dan kekhusyu'an
2. Disunnahkan untuk mempercepat langkah ketika melewati wadi Muhassir, jika hal itu memungkinkan
3. Menyibukkan diri dengan tarbiyah hingga sampai di Jumrah 'Aqabah, lalu menghentikan bacaan (tarbiyah), menjadikan Mina di sebelah kanan dan Ka'bah du sebelah kirinya, melempar jumrah 'Aqabah dengan tujuh kerikil secara berurutan, mengangkat tangan setiap kali lemparan dan bertakbir. Setelah pelemparan lalu minggir ke arah kiri cari posisi yang amanaman, jauh dari jemaah yang melakukan pelemparan, dan berdoa menghadap Ka'bah. Waktu melempar jumrah yang disunnahkan pada dzuhur.
4. Setelah melempar jumrah Aqabah dan menggundul atau memendekkan rambut, dibolehkan bagi orang yang sedang ihram melakukan apa saja kecuali berhubungan badan dengan istri. Ini yang dinamakan tahallul awal.
5. Disunnahkan setelah tahallul awal, untuk membersihkan diri, memakai wangi2an dan menuju ke Makkah untuk melakukan Thawaf Ifadhah, termasuk rukun haji. Setelah thawaf ini, maka dihalalkan semua larangan ihram termasuk berjima' dengan istri.
6. Sa'i antara Shafa dan Marwah bagi jemaah haji yang tamattu' atau yang ifrad dan qiran, namun sa'i setelah thawaf qudum
7. Jika ia menyembelih hadyu/qurban sebelum melempar jumrah atau mencukur rambut, maka hal itu dibolehkan. Walaupun yang lebih utama adalah melempar, kemudian menyembelih, lalu mencukur rambut dan thawaf ifadhah.
Informasi disampaikan oleh layanan umrah yang tergabung dalam Forum Komunikasi Travel Warga Muhammadiyah atau FKTWM Jakarta, umrah dengan layanan terbaik, amanah dan terpercaya. Hubungi M. Furqan pegiat dana dakwah MIKI KOAI Semangat BerTani Kita 🥑🙏 08128108994
Ya Allah Tuhan yang maha mengasihi dan maha Mencintai hamba-hamba-Nya yang
saling mengasihi, Kuatkanlah ikatan Kasih sayang diantara kami yang telah
engkau ikat dengan pertalian darah melalui pernikahan kedua orang tua kami.
Mudahkanlah jalan hidup kami dalam menempuh jalan keridhaan-Mu dan meninggikan kalimat-Mu.
Lapangkanlah pintu rezki kami agar kami lebih kuat untuk mengabdi kepada-mu dan berbuat baik kepada sesama kami.
Angkatlah penyakit yang menimpa saudara-saudara kami khususnya Masnidar Tanjung dan Maswardin Tanjung dengan memberikan kesembuhan yang tidak lagi meninggalkan bekas kesakitan.
Jauhkanlah kami dari kesulitan dan penderitaan, dari duka lara dan kesedihan serta sinarilah hidup kami dengan cahaya-Mu yang terang benderang.
Tidak ada Tuhan tempat kami menyerahkan diri selain Engkau. Mahs suci Engkau. Sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang menganiaya diri.
Mudahkanlah jalan hidup kami dalam menempuh jalan keridhaan-Mu dan meninggikan kalimat-Mu.
Lapangkanlah pintu rezki kami agar kami lebih kuat untuk mengabdi kepada-mu dan berbuat baik kepada sesama kami.
Angkatlah penyakit yang menimpa saudara-saudara kami khususnya Masnidar Tanjung dan Maswardin Tanjung dengan memberikan kesembuhan yang tidak lagi meninggalkan bekas kesakitan.
Jauhkanlah kami dari kesulitan dan penderitaan, dari duka lara dan kesedihan serta sinarilah hidup kami dengan cahaya-Mu yang terang benderang.
Tidak ada Tuhan tempat kami menyerahkan diri selain Engkau. Mahs suci Engkau. Sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang menganiaya diri.
UNTAIAN HIKMAH IBADAH HAJI II (dua)
WUQUF DI ARAFAH
Ya Allah. Tuhan yang maha indah. tiada rasanya yang lebih indah dari hati yang tergugah, membuat cinta merekah, saat berkumpul di Arafah, sambil memandang Jabal rahmah, berangkat ke Muzdalifah, dan bermalam di Mina, lalu melontar tiga Jumrah. Kemudiat tawaf keliling ka’bah, sa’i antara Safa dan Marwah, berada di rumah Allah, pipipun basah karena air mata tercurah.
Arafah sejak dahulu dikenal sebagai tempat beribadah para nabi. Dan Allah menetapkannya sebagai tempat wuquf yang menjadi rukun utama bagi ummat Islam yang melaksanakan ibadah haji, dan itulah membedakannya dengan ibadah umrah. Pada saat wuquf itulah Allah memberikan kesempatan kepada para tamu yang telah memenuhi undangannya untuk memohan ampunan sekaligus memanjatkan do’a yang tentu saja pasti akan dikabulkan-Nya. Sebagaimana Rasulullah telah bersaba:’Do’a yang paling afdhal adalah do’a orang yang sedang wuquf di Arafah,sementara paling afdhal bacaan yang dibaca oleh para nabi sebelum aku yang dibaca pada siang hari arafah adalah,”Tidak ada Tuhan selain Allah, Dialah Tuhan satu-satunya, Dia tidak bersekutu, hanya milik-Nyalah kerajaan, dan hanya milik-Nya segala pujian, Dia yang Menghidupkan, Dia pula yang Mematikan, Dia Maha Hidup dan tidak akan mati, ditangan-Nya segala kebaikan, Dan Dia atas segala sesuatu Maha Mampu.”
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA, bahwa Nabi SAW. bersabda: ”Sesungguhnya do’a yang sering Aku dan para nabi membacanya pada siang hari Arafah adalah,: Tidak ada Tuhan selain Allah. Dialah Tuhan satu-satunya, Dia tidak bersekutu, hanya milik-Nyalah kerajaan, dan hanya milik-Nya segala pujian, Dia yang Menghidupkan, Dia pula yang Mematikan, Dan Dia atas segala sesuatu Maha Mampu, Ya Allah jadikanlah cahaya di hatiku, jadikanlah cahaya di pendengaranku, jadikanlah cahaya di penglihatanku, Ya Allah lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan dan keraguan hati, dan dari keburukan urusan dan fithnah kubur. Ya Allah, sesungguhnya Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang dibawa oleh malam dan dihembuskan oleh angin.”
Dan ketika berjalan menuju arafah disunnahkan membaca do’a:”Ya Allah, kepada-Mulah aku menghadap, hanya kepada-Mulah aku bertawakkal, hanya Engkaulah yang aku inginkan, ampunilah dosa-dosaku, jadikanlah ibadah hajiku haji yang mabrur, kasihilah aku dan jangan Engkau kecewakan, berkahilah perjalananku, tunaikanlah di Arafah kebutuhanku, sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu Maha Mampu.”
Ketika wuquf di Arafah, terasalah betapa kecilnya diri kita berhadapan dengan kemaha besaran Allah maka lidahpun tidak putus-putusnya berzikir dengan tasbih, takbir tahlil dan tahmid. Kitapun akan tercenung karena seolah-olah kita berada di Padang mahsyar yang dihadiri oleh lautan manusia yang diperlakukan sama dan tidak membedakan warna kulit dan tutur bahasa, dan tidak melihat bentuk tubuh dan penampilan , yang paling berbahagia ketika itu adalah orang yang datang dengan jiwa taqwa, yang dengan hati yang suci membawa amal shaleh yang sempat dilakukan di dunia. Pada waktu itu manusia tidak perduli lagi dengan anak dan isteri, dan tidak mau tahu dengan karib dan kerabat Sanak dan saudarapun tak bisa membantu, pangkat dan jabatan tak dapat menyelamatkan, harta dan benda sudah jauh ditinggalkan, badan yang kuat malah menjadi beban.
Pada saat itu kita dibangkit dari kubur, mizan ditegakkan, hisab dilakukan, shiratal mustaqim dibentangkan, Dan setiap manusia akan menerima putusan yang tidak dapat diganggu gugat, kalau tidak jadi penghuni surga tentu akan menjadi penghuni neraka.
Nanti di padang mahsyar, pengadilan akan digelar, banyak manusia yang tergelepar, dibawah panas terik membakar, karena dosa yang pernah disebar manusia akan berjalan tertatih tatih, melangkah terseok-seok dengan nafas yang tersengal sengal, karena memikul beban dosa, menjerit terbirit birit, kerena semua serba sulit, melolonglolong mita tolong, tak ada yang boleh menolong, mendayu-dayu merayu, bagai disayat sembilu, tak ada yang mau tahu. Sanak dan saudara yang diharapkan membantu, malah mencelakakan, pangkat dan jabatan yang diharapkan menyelamatkan, malah membinasakan harta dan benda sudah jauh ditinggalkan, badan yang kuat malah menjadi beban yang menyengsarakan. Maka terbuktilah ketika itu bahwa kesenangan dunia menipu, siangnya penuh mainan dan sandiwara, malamnya melalaikan, keindahan dan hiasannya bagai mimpi belaka, yang terasa amat sebentar ketika kita sudah melewatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar