Sabtu, 29 April 2017

CURHAT TAHAJJUD

Di saat orang lain terlelap dalam ayunan mimpi, kita diperkenankan datang mendekat, segala hirauan dunia sirna dari jiwa, sebab sang hamba sedang menuturkan suara hati di hadapan Tuhannya.
Meleleh air mata di wajahmu karena engkau yang lemah diperbolehkan menghadap
Alangkah nikmatnya jiwa diperbolehkan datang, pintu dibuka dan pengaduan diterima.

Tuhanku, malam ini sunyi senyap, tiada gema dan suara.
Gempita seluruh alam telah lenyap dalam pangkuan kesunyian
Seluruh bumi ditelan kesepian. Ribuan bintang di halaman langit  gemerlapan dengan titik-titik cahaya yang indah menembus bumi memecahkan kegelapan.
Bani insan semuanya tengah tenggelam dalam tidur, agaknya tengah dibuai mimpi yang indah.

Di kala itu, simusafir yang malang ini tersentak bangun, lalu bersuci karena hendak datang menghadap.
Pintu langit Engkau bukakan, dan Engkau berkenan menerima kedatanganku.
Sedu sedan tangisku karena keharuan karena hamba yang hina ini engkau perkenankan untuk mendekat, bersimpuh di hadapan kebesaran-Mu.

Duhai Tuhan yang maha Kasih! Dalam wahyu yang Engkau nuzulkan, Engkau berjanji akan menerima segala pengaduan, berkenan memberikan ampunan dan mengabulkan segala permintaan.

Aku percaya kepada janjimu, bahwa ampunan-Mu jauh lebih besar dari kesalahan insan, walau lutut ini lemah, karena diri yang penuh dengan cacat, dosa dan maksiat namun kuyakin kasih sayang-Mu yang tidak terbatas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar