KISAH INSPIRATIF. Rugi untuk
dilewatkan, sayang kalu tidak dibaca. Semoga yang membaca mendapat berkah dari Yang Maha
Kaya. Kalaupun meleleh air mata
haru, tanda masih cinta kepada Allah
PESONA BERKAH INDAHNYA CINTA
“Maaf ya, rumahnya kecil,”
Kata pemuda itu pada isterinya sebakda pernikahan. “Kontrakan pula.” Dia
berusaha tersenyum meski ada yang terasa membebani.
“Tak apa,” ujar sang isteri
dengan wajah ridha lagi bahagia. Senyumnya mengembang sempurna. “Jangan terlalu
dipikirkan,” lanjutnya. “Yang sempit akan terasa luas asalkan hati kita juga
lapang.”
Hati lelaki muda itu seperti
disergap embun pegunungan. Tapi tetap dijajakinya pemahaman istrinya.
“Bagaimana jika nantinya kita harus mengontrak rumah seumur hidup kerena aku
tak sanggup membeli rumah untuk kita?.
Istrinya tersenyum lagi.
“Tidak apa-apa sayang,” ujarnya kini dengan nada bermanja. “Punya rumah itu
tidak wajib. Tak memilikinya bukan berarti dosa. Kalau shalat baru wajib. Tidak
salah barulah dosa,” Sang istri tertawa kecil memperlihatkan betapa manis gigi
ginsulnya.
Lelaki itu terhenyak makin
kagum pada wanita yang sebenarnya belum terlalu dikenalnya. Hanya dua atau tiga
pertemuan di rumah seorang ustadz. Tanya jawab yang singkat tapi bermaknalah
yang membuat mereka memutuskan menikah. “Memangnya kamu tidak ingin punya
rumah, sayang?” tanyanya dengan berdebar.
“Ingin sekali, amat sangat ingin,” sahut sang istri, “yang besar
megah, mewah, dan berada di tengah taman yang sangat indah.”
“Wah,” timpal suaminya, “dengan
keadaan sekarang, aku tidak tahu apakah sampai akhir hidupku aku akan mampu
membelikannya untukmu.”
“Tenang saja sayang,” kata
istrinya dengan riang, “cukup bagi kita punya rumah di surga. Yang di dunia
kita nikmati saja apa yang ada.”
Maka berjalanlah hidup
pasangan muda itu dengan keterbatasan yang disabari dan nikmat-nikmat tak terduga yang disukuri.
Tiga sore dalam sepekan , rumah sewaan mereka ramai oleh anak-anak yang belajar
mengaji Al-Qur’an. Gema mereka mengeja huruf-huruf hijaiyyah menggetarkan
dinding-dindingnya. Gemuruh tilawah mereka menjadi senandung yang syahdu.
Tapi juga tingkah polah mereka
beraneka. Gedebag-gedebugnya ribut. Hingar bingarnya gempar. Riuh rendahnya
semarak. Dan suatu hari, dengan pensil warna, crayon, dan spidol, mereka
menggambar dan melukisi tembok-tembok ruang tamu rumah bersahaja itu dengan
sangat seru. Coret moret jadinya. Dan atas ketetapan Allah, saat mereka asyik
menuangkan karya abstraknya, datanglah sang pemilik rumah yang lantas
marah-marah.
Tentu saja dia merasa bahwa
milik dia yang diamanahkan sebagai sewaan, telah dikotori dan dibuat berantakan
oleh anak-anak pengajian. Sebahagian anak itu takut dan menangis. Sebahagian
yang lain dan berolok-olok. Tapi jelas, majlis pengajian sore itu kacau
acaranya.
Petang itu, di pundak
suaminya, sang istri menangis, “Kasihan
anak-anak itu,” ujarnya di sela isak, “bagaimana kalau mereka takut dan tak
berani mengaji lagi? Beliau berlebihan, kalau hanya dinding dicorat-coreti,
bukankah kapan waktu bisa dicat lagi?”
Diam diam, di dalam hatinya,
sang suami merintih kepada Rabbnya. “Ya Allah,” lirihnya, “jika memiliki rumah
itu baik, ya Allah; agar anak-anak yang mengaji ini jika berekspresi
mencorat-coret tembok kami tak perlu ada yang memarahi; maka kami tak
berkeberatan jika Kau anugerahkan tampat tinggal yang mencukupi sebagai milik
kami.”
Dan mudah bagi Allah yang maha
Pemberi kaya mewujudkan permohonan. Mungkin bukan tersebab kedua suami istri
itu telah menyiapkan jawab jika ditanya untuk apa rumah yang mereka pinta. Tapi
ini karunia Allah, yang dengan jawaban itu insya Allah akan bertambah ringan
hisab atasnya di akhirat nanti. Sebulan kemudian, dengan cara yang sangat
menakjubkan, Allah anugrahkan mereka
sebuah rumah yang melampaui semua bayangan mereka dalam letak, ukuran maupun
kemudahan pembayarannya.
Merekapun, bersama anak
tercinta, masih santai saja mengendrai sepeda motor ke mana-mana. Sampai
orang-orang menegur, andai sepeda motor itu bisa bicara, pastilah ia berteriak
mengungkapkan derita. Sebab penumpangnya yang berat-berat, betapa membebaninya.
Tapi setiap kali handai dan rekan menggoda agar menggantinya dengan mobil saja,
sang istri berkata pada suaminya, “mana bisa mobil membuat kami semesra
boncengan berdua?.
Hingga suatu hari sang istri
menangis lagi. Sebab ia melihat seorang ibu tetangga dekat yang sudah harus
cuci darah akibat penyakit gagal ginjal, berangkat ke rumah sakit dibonceng
suaminya yang sudah berumur pula. Hujan turun deras, dan mereka tampak sangat
kepayahan dalam basah dan dingin yang menusuk.
“Ya Allah, kasihan mereka,”
begitu gumam wanita di sisinya yang membuat sang suami kembali melirihkan do’a,
“Ya Allah, “ batinnya, “jika memiliki mobil itu baik; bisa digunakan mengantar
tetangga cuci darah rutin tanpa kehujanan, maka kami tidak keberatan dikaruniai
mobil, ya Allah.”
Dan mudah bagi Allah yang maha
Pemberi kaya mewujudkan permohonan. Mungkin bukan tersebab kedua suami istri
itu telah menyiapkan jawab jika ditanya untuk apa mobil yang mereka pinta. Tapi
ini karunia Allah, yang dengan jawaban itu insya Allah akan bertambah ringan
hisab atasnya di akhirat nanti. Lagi-lagi sebulan kemudian, dengan cara yang
sangat menakjubkan, Allah anugrahkan
mereka sebuah mobil yang melampaui semua bayangan mereka tantang merek,
model, umur, kenyamanan maupun kemudahan pembayarannya.
Barangkali, menyiapkan jawaban
bukan hanya memudahkan hisab di akhirat, melainkan juga istijabah di dunia.
Kita lalu belajar di lapis-lapis keberkahan, menyiapkan jawaban lebih penting
dari segala yang kita punya maupun kita angankan.
(Salim A. Fillah, dalam buku
Lapis-lapis keberkahan Hal. 146-149)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar