Rabu, 24 Agustus 2016

ZUHUD DI DUNIA DAN KHIRAT

Ketika Khalifah Harun Al-Rasyiid melihat Al-Fudhail bin “Iyadh (seorang toloh Ulama yang terkenal dengan kezuhudannya) berpenampilan sangat sederhana, Khalifah sangat terenyuh dan berkata:”Sungguh aku kasihan melihat dirimu, betapa zuhudnya engkau ini.” Al-Fudhail menjawab,”Justru akulah yang kasihan melihatmu, engankaulah yang zuhud sesungguhnya, bukan aku”.

Khalifah Harun Al-Rasyid heran dengan jawaban Al-Fudhail. Lalu bertanya,”Kenapa begitu?”. Kata Al-Fudhail:”Ya, aku ini hanya zuhud di dunia, tetapi tidak di akhirat. Sedangkan engkau, engkau tidak zuhud di dunia, akan zuhud abadi di akhirat kelak”.

Khalifah Harun Al-Rasyiidpun menangis tersedu-sedu mendengar jawaban Al-Fudhail. Dan konon sesudah itu Harun tidak lagi mau hidup bermewah-mewah.

Banyak kita menemukan orang yang mengejar kemewahan dunia secara berlebih-lebihan dari apa yang sesungguhnya dia butuhkan, tidak semua harta yang kita miliki bisa kita makan atau kita pakai dan tempati sebagai sandang pangan dan papan, karena jumlah makanan, pakaian dan tempat tinggal manusia itu ada batasnya. Yang bisa kita makan hanya sekenyang perut saja, yang mungkin kita pakai hanya selebar penutup tubuh, dan untuk tempat istirahat merebahkan diri tidk lebih dari dua kali satu meter saja. Pada saat kita meninggalkan dunia banyak sekali meninggalkan harta yang tidak sempat kita makan dan kita pakai, serta tidak satupun yang bisa dibawa ke dalam kubur. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah orang yang hidup dengan harta yang berlimpah itu. Sejak dia meninggalkan dunia, hidup susah dan penuh derita, karena selama hidupnya tidak pernah terpikir untuk menyisihkan sebahagian harta miliknya itu, yang akan menjadi teman setia menemaninya sejak dari pintu kubur sampai ke akhirat nanti. Dia tidak pernah kekurangan apa apa di dunia, tetapi di akhirat nanti dia akan menjadi orang yang sangat zuhud karena tida memiliki apa-apa yang dapat untuk menolong dirinya.


Tentu saja tidak seorangpun dari kita yang mau mengalami nasib yang seperti ini. Oleh sebab itu selagi ada kesempatan janganlah berhenti untuk setiap saat selalu menyisihkan sebahagian harta kita dengan membelanjakannya sesuai dengan tuntunan agama sebagai bekal kita agar kita tidak menjadi orang yang zuhud di akhirat nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar