Rabu, 24 Agustus 2016

RENUNGAN


RENUNGAN I
Banyak sudah kita menemukan orang yang mengaku dirinya Islam tetapi hatinya tidak terpanggil lagi ketika memdengar panggilan azan yang dikumandangkan dari masjid, mereka lebih senang berkumpul di tempat-tempat begadang malam, menghabiskan umur dengan kekonyolan dan kekejian, penuh tawa dan main-main, seakan-akan mereka tidak mempunyai tugas penting di dalam hidupnya, atau seakan-akan mereka sudah punya perjanjian untuk hidup selama-lamanya, namun tiba-tiba mereka diberangkatkan oleh malaikat maut yang mencabut nyawanya dan menghentikan detak jantungnya. Pernahkah kita merenung agak sejenak, dimanakah makanan lezat yang kita santap kemarin, apakah masih terasa lezatnya sekarang?. Atau dimanakah minuman segar dan dingin yang kita teguk kemarin, apakah sejuknya masih kita rasakan sekarang? Tentu saja tidak sama sekali. Rasa lapar kita pada hari ini terasa seolah-olah kita belum pernah makan apapun juga, dan rasa haus kita hari ini seolah-olah kita seperti orang yang belum pernah minum. Dan ketika kita merasa sedih, seakan-akan kita tidak pernah bergembira. Kenapa demikian. Jawabannya itulah yang harus kita renungkan!






RENUNGAN II
Tidak seorang pun yang bisa mengetahui apakah yang akan terjadi pada dirinya besok. Ramalan para peramalpun sangat tak pantas untuk dipercaya karena penuh kebohongan, merusak iman, dan dibumbui tipu daya syetan. Roda dunia selalu berputar silih berganti tanpa henti. Matahari dan semua plenet bergerak terus sesuai rotasinya. Hembusan angin malam mendorong fajar menyingsing diiringi pancaran sinar matahari yang membawa harapan baru.

Hati manusia mudah berobah dan selalu berbolak balik. Hari ini mungkin kita dipuja dan disanjung banyak orang, namun mungkin besok kita akan dihina dan dicaci maki. Begitu juga sebaliknya mungkin hari ini kita dihina dan dicaci maki, tapi besok kita dimuliakan dan dielu-elukan.

Dipagi hari kita masih bingung untuk membelanjakan uang yang begitu banyak karena semua keperluan sudah terpenuhi, namun tiba-tiba di sore hari kita sudah menjadi orang yang tidak mampu, walaupun hanya untuk membeli sesuap nasi, bahkan kita sedang dikejar-kejar oleh penagih hutang.

Menyambut datangnya malam mungkin kita sangat berbahagia, dengan penuh suka cita dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai kita, namun di ujung malam kita dalam kesakitan meregang nyawa karena dikeroyok dan dianiaya oleh orang-orang yang tak punya hati.

Selagi kita asik bermain-main dan bersenang senang , atau sedang tekun bekerja dan berusaha, kita tidak bisa menduga kalau itu adalah saat kedatangan kematian kita yang membuat semua orang disekitar kita terkejut, terkesima dan tak percaya, tetapi semuanya adalah kenyataan yang tidak bisa dielakkan.


Selalulah bertawakkal kepada Allah, jangan pernah berhenti memohon petunjuk kepada-Nya, Isilah detik demi detik yang akan dijalani dengan selalu mengingat-Nya. Tanamkan niat di dalam hati agar semua aktivitas dalam Koridor perhambaan diri kepada-Nya. Jangan hiraukan rayuan dan tipuan syetan menyesatkan. Katakan kepada dunia “betapun indahnya kemewahanmu itu hanyalah sesaat dan sementara dan penyebab prahara yang mengguncang jiwa”. Dan selalulah berada dalam kondisi siap siaga untuk menyambut kedatangan malaikat maut untuk membawa kita ke alam baqa.

RENUNGAN BAHAGIA
Hidup ini bagaikan roda yang selalu berputar, terkadang di atas dan terkadang di bawah,  ada saat bahagia dan ada saat bersedih. Waktupun terus berganti, setelah kesulitan datang kemudahan, sesudah bersabar datanglah kemenangan, setelah lewat waktu malam datanglah waktu pagi, setelah musim gugur datang musim semi, setelah musim kemarau ada musim hujan, ada kalanya sakit dan ada kalanya sehat dan begitulah seterusnya.
Itulah sunnatullah. Dan bagian dari sunnatullah pula, bahwa manusia dikaruniai akal dan hati untuk mencerna makna kehidupan ini. Semakin arif seseorang dalam memahami arti dan tujuan hidupnya, maka semakin bijak pula dia dalam bersikap. Sebaliknya, jika seseorang enggan merenungi keberadaannya di dunia ini; dari apa dia berasal, dari mana dia datang, siapa yang menciptakannya, untuk apa dia hidup, kemana dirinya setelah mati, dan berbagai pertanyaan lain; maka tanpa renungan itu ia akan hidup tanpa arah dan cenderung mengikuti hawa nafsu yang akhirnya mencelakakan.
Siapapun orangnya tentu menginginkan hidup bahagia.  Baik di dunia ataupun di akhirat. Ada yang hanya puas dengan kebahagiaan di dunia saja. Ada yang hanya mendambakan kebahagiaan di akhirat tanpa peduli dengan kehidupan di dunia. Dan ada pula yang mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Akan tetapi manusia sering lupa bahwa orang yang miskin dan hidup serba berkekuranganpun sesungguhnya bisa berbahagia dengan keadaannya. Sebaliknya tidak sedikit orang kaya yang hidup serba berkecukupan, tak kunjung berbahagia dengan apa yang telah dicapainya. Karena kebahagiaan itu memang sesuatu yang sangat relatif, ia tidak bisa dilihar dan diraba melainkan hanya bisa dirasakan oleh hati.
Ketika Khalifah Harun Al-Rasyiid melihat Al-Fudhail bin “Iyadh (seorang toloh Ulama yang terkenal dengan kezuhudannya) berpenampilan sangat sederhana, Khalifah sangat terenyuh dan berkata:”Sungguh aku kasihan melihat dirimu, betapa zuhudnya engkau ini.” Al-Fudhail menjawab,”Justru akulah yang kasihan melihatmu, engankaulah yang zuhud sesungguhnya, bukan aku”.

Khalifah Harun Al-Rasyid heran dengan jawaban Al-Fudhail. Lalu bertanya,”Kenapa begitu?”. Kata Al-Fudhail:”Ya, aku ini hanya zuhud di dunia, tetapi tidak di akhirat. Sedangkan engkau, engkau tidak zuhud di dunia, akan zuhud abadi di akhirat kelak”.


Khalifah Harun Al-Rasyiidpun menangis tersedu-sedu mendengar jawaban Al-Fudhail. Dan konon sesudah itu Harun tidak lagi mau hidup bermewah-mewah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar