Banyak sudah kita menemukan orang yang
mengaku dirinya Islam tetapi hatinya tidak terpanggil lagi ketika memdengar
panggilan azan yang dikumandangkan dari masjid, mereka lebih senang berkumpul
di tempat-tempat begadang malam, menghabiskan umur dengan kekonyolan dan
kekejian, penuh tawa dan main-main, seakan-akan mereka tidak mempunyai tugas
penting di dalam hidupnya, atau seakan-akan mereka sudah punya perjanjian untuk
hidup selama-lamanya, namun tiba-tiba mereka diberangkatkan oleh malaikat maut
yang mencabut nyawanya dan menghentikan detak jantungnya. Pernahkah kita
merenung agak sejenak, dimanakah makanan lezat yang kita santap kemarin, apakah
masih terasa lezatnya sekarang?. Atau dimanakah minuman segar dan dingin yang
kita teguk kemarin, apakah sejuknya masih kita rasakan sekarang? Tentu saja
tidak sama sekali. Rasa lapar kita pada hari ini terasa seolah-olah kita belum
pernah makan apapun juga, dan rasa haus kita hari ini seolah-olah kita seperti
orang yang belum pernah minum. Dan ketika kita merasa sedih, seakan-akan kita
tidak pernah bergembira. Kenapa demikian. Jawabannya itulah yang harus kita
renungkan!
RENUNGAN II
Tidak seorang pun yang
bisa mengetahui apakah yang akan terjadi pada dirinya besok. Ramalan para
peramalpun sangat tak pantas untuk dipercaya karena penuh kebohongan, merusak
iman, dan dibumbui tipu daya syetan. Roda dunia selalu berputar silih berganti
tanpa henti. Matahari dan semua plenet bergerak terus sesuai rotasinya.
Hembusan angin malam mendorong fajar menyingsing diiringi pancaran sinar
matahari yang membawa harapan baru.
Hati manusia mudah
berobah dan selalu berbolak balik. Hari ini mungkin kita dipuja dan disanjung
banyak orang, namun mungkin besok kita akan dihina dan dicaci maki. Begitu juga
sebaliknya mungkin hari ini kita dihina dan dicaci maki, tapi besok kita
dimuliakan dan dielu-elukan.
Dipagi hari kita masih
bingung untuk membelanjakan uang yang begitu banyak karena semua keperluan
sudah terpenuhi, namun tiba-tiba di sore hari kita sudah menjadi orang yang
tidak mampu, walaupun hanya untuk membeli sesuap nasi, bahkan kita sedang
dikejar-kejar oleh penagih hutang.
Menyambut datangnya
malam mungkin kita sangat berbahagia, dengan penuh suka cita dikelilingi oleh
orang-orang yang mencintai kita, namun di ujung malam kita dalam kesakitan
meregang nyawa karena dikeroyok dan dianiaya oleh orang-orang yang tak punya
hati.
Selagi kita asik
bermain-main dan bersenang senang , atau sedang tekun bekerja dan berusaha,
kita tidak bisa menduga kalau itu adalah saat kedatangan kematian kita yang
membuat semua orang disekitar kita terkejut, terkesima dan tak percaya, tetapi
semuanya adalah kenyataan yang tidak bisa dielakkan.
Selalulah bertawakkal
kepada Allah, jangan pernah berhenti memohon petunjuk kepada-Nya, Isilah detik
demi detik yang akan dijalani dengan selalu mengingat-Nya. Tanamkan niat di
dalam hati agar semua aktivitas dalam Koridor perhambaan diri kepada-Nya.
Jangan hiraukan rayuan dan tipuan syetan menyesatkan. Katakan kepada dunia
“betapun indahnya kemewahanmu itu hanyalah sesaat dan sementara dan penyebab
prahara yang mengguncang jiwa”. Dan selalulah berada dalam kondisi siap siaga
untuk menyambut kedatangan malaikat maut untuk membawa kita ke alam baqa.
RENUNGAN BAHAGIA
Hidup ini bagaikan roda
yang selalu berputar, terkadang di atas dan terkadang di bawah, ada saat bahagia dan ada saat bersedih.
Waktupun terus berganti, setelah kesulitan datang kemudahan, sesudah bersabar
datanglah kemenangan, setelah lewat waktu malam datanglah waktu pagi, setelah
musim gugur datang musim semi, setelah musim kemarau ada musim hujan, ada
kalanya sakit dan ada kalanya sehat dan begitulah seterusnya.
Itulah sunnatullah. Dan
bagian dari sunnatullah pula, bahwa manusia dikaruniai akal dan hati untuk mencerna
makna kehidupan ini. Semakin arif seseorang dalam memahami arti dan tujuan
hidupnya, maka semakin bijak pula dia dalam bersikap. Sebaliknya, jika
seseorang enggan merenungi keberadaannya di dunia ini; dari apa dia berasal,
dari mana dia datang, siapa yang menciptakannya, untuk apa dia hidup, kemana
dirinya setelah mati, dan berbagai pertanyaan lain; maka tanpa renungan itu ia
akan hidup tanpa arah dan cenderung mengikuti hawa nafsu yang akhirnya
mencelakakan.
Siapapun orangnya tentu
menginginkan hidup bahagia. Baik di
dunia ataupun di akhirat. Ada yang hanya puas dengan kebahagiaan di dunia saja.
Ada yang hanya mendambakan kebahagiaan di akhirat tanpa peduli dengan kehidupan
di dunia. Dan ada pula yang mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Akan
tetapi manusia sering lupa bahwa orang yang miskin dan hidup serba
berkekuranganpun sesungguhnya bisa berbahagia dengan keadaannya. Sebaliknya
tidak sedikit orang kaya yang hidup serba berkecukupan, tak kunjung berbahagia
dengan apa yang telah dicapainya. Karena kebahagiaan itu memang sesuatu yang
sangat relatif, ia tidak bisa dilihar dan diraba melainkan hanya bisa dirasakan
oleh hati.
Ketika Khalifah Harun
Al-Rasyiid melihat Al-Fudhail bin “Iyadh (seorang toloh Ulama yang terkenal
dengan kezuhudannya) berpenampilan sangat sederhana, Khalifah sangat terenyuh
dan berkata:”Sungguh aku kasihan melihat dirimu, betapa zuhudnya engkau ini.”
Al-Fudhail menjawab,”Justru akulah yang kasihan melihatmu, engankaulah yang
zuhud sesungguhnya, bukan aku”.
Khalifah Harun
Al-Rasyid heran dengan jawaban Al-Fudhail. Lalu bertanya,”Kenapa begitu?”. Kata
Al-Fudhail:”Ya, aku ini hanya zuhud di dunia, tetapi tidak di akhirat.
Sedangkan engkau, engkau tidak zuhud di dunia, akan zuhud abadi di akhirat
kelak”.
Khalifah Harun Al-Rasyiidpun
menangis tersedu-sedu mendengar jawaban Al-Fudhail. Dan konon sesudah itu Harun
tidak lagi mau hidup bermewah-mewah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar