Ketika cahaya Islam memancar, yang yang
pertama sekali jadi sasaran sorotan
cahayanya adalah akal. Cahaya akal menjadi terang benderang karena cahaya wahyu
yang menyebabkan lahirnya cahaya di atas cahaya.
Cahaya akal tanpa cahaya agama, tidaklah
memadai untuk keselamatan manusia, itulah sebabnya ummat yang belum didatangi
oleh agama tidak mungkin akan menjadi ummat yang maju. Lantaran mengunakan akal
saja orang-orang primitf masih jauh dari kemajuan dan masih mau bertelanjang
bugil, dan hanya karena pertimbangan akal beberapa bangsa yang mengaku beradab
sedang menuju pakaian yang semakin telanjang. Oleh karena itu akal saja tanpa
agama tidak bisa dipercaya sebagai jalan penerang kehidupan.
Agama Islam datang mengakui kecerdasan akal
untuk mencapai kemajuan, segenap ajarannya selaras dengan akal pikiran.
Berpikir sesaat lebih besar nilainya dari beribadah satu tahun. Allah akan
melemparkan kedalam neraka orang yang punya akal tapi tak mau berpikir, punya
hati tapi tak mau memahami, punya telinga tapi tak mau mendengarkan kebenaran,
dan punya mata tapi tak mau membedakan antara yang halal dan haram. Dan
berpuluh-puluh ayat al-Qur’an yang menyuruh berpikir dan menggunakan akal serta
mengambil pelajaran dari fenomena alam semesta.
Oleh karena itu sucikanlah hati dengan Agama,
niscaya akal akan berkembang dan terarah menuju kemajuan yang beradab, dan
selalu tunduk kepada perintah Allah yang maha Kuasa. Dengan berpedoman kepada
ayat –ayat qur’aniyah yang penuh cahaya yang diturunkan sebagai cahaya di atas
cahaya, dan kepada kitab yang terbentang di alam semesta yang juga merupakan
ayat-ayat Allah yang disebut dengn ayat kauniah yang harus kita baca dengan
pikiran yang jernih, bukan dengan mendengarkan dorongan hawa nafsu dan bisikan
syetan yang terkutuk untuk memperdaya kita menjadi makhluk yang berbuat
kerusakan di muka bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar