Jumat, 26 Agustus 2016

KEMERDEKAAN BERPIKIR

Ketika cahaya Islam memancar, yang yang pertama sekali jadi sasaran  sorotan cahayanya adalah akal. Cahaya akal menjadi terang benderang karena cahaya wahyu yang menyebabkan lahirnya cahaya di atas cahaya.
Cahaya akal tanpa cahaya agama, tidaklah memadai untuk keselamatan manusia, itulah sebabnya ummat yang belum didatangi oleh agama tidak mungkin akan menjadi ummat yang maju. Lantaran mengunakan akal saja orang-orang primitf masih jauh dari kemajuan dan masih mau bertelanjang bugil, dan hanya karena pertimbangan akal beberapa bangsa yang mengaku beradab sedang menuju pakaian yang semakin telanjang. Oleh karena itu akal saja tanpa agama tidak bisa dipercaya sebagai jalan penerang kehidupan.
Agama Islam datang mengakui kecerdasan akal untuk mencapai kemajuan, segenap ajarannya selaras dengan akal pikiran. Berpikir sesaat lebih besar nilainya dari beribadah satu tahun. Allah akan melemparkan kedalam neraka orang yang punya akal tapi tak mau berpikir, punya hati tapi tak mau memahami, punya telinga tapi tak mau mendengarkan kebenaran, dan punya mata tapi tak mau membedakan antara yang halal dan haram. Dan berpuluh-puluh ayat al-Qur’an yang menyuruh berpikir dan menggunakan akal serta mengambil pelajaran dari fenomena alam semesta.

Oleh karena itu sucikanlah hati dengan Agama, niscaya akal akan berkembang dan terarah menuju kemajuan yang beradab, dan selalu tunduk kepada perintah Allah yang maha Kuasa. Dengan berpedoman kepada ayat –ayat qur’aniyah yang penuh cahaya yang diturunkan sebagai cahaya di atas cahaya, dan kepada kitab yang terbentang di alam semesta yang juga merupakan ayat-ayat Allah yang disebut dengn ayat kauniah yang harus kita baca dengan pikiran yang jernih, bukan dengan mendengarkan dorongan hawa nafsu dan bisikan syetan yang terkutuk untuk memperdaya kita menjadi makhluk yang berbuat kerusakan di muka bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar