Ketergantungan akal
manusia kepada wahyu dapat diibaratkan seperti cahaya yang menerangi kehidupan
kita agar langkah-langkah
langkah-langkah yang kita tempuh memiliki kepastian yang menyelamatkan.
Akal yang tidak dibimbing wahyu, tak jauh berbeda dengan orng yang berjalan di
dalam kegelapan, tidak dapat melihat apa-apa.
Seperti mata, walaupun sehat, tatapi tanpa cahaya yang menerangi di
ruangan kita berada, pastilah kita tidak dapat melihat sesuatu. Bahkan jika
kita terus menerus dalam ruangan seperti itu, kita tidak saja akan menemukan
kegelapan tetapi mata kitapun akan ikut rusak. Begitu juga akal kita yang tidak
pernah mau mengenal wahyu, maka akal tersebut tidak akan pernah sampai kepada
kebenaran dan kebaikan, malah akan menyebabkan manusia tenggelam dalam
kejahatan, kezaliman, kebiadaban dan hanya akan memperturutkan hawa nafsu
semata.
Kenapa bisa demikian?
Karena banyak sekali objek yang menjadi fokus pengamatan manusia yang tidak
bisa ditangkap oleh akal, seperti roh, alam semesta yang amat luas, masalah
kehidupan di masa depan, makhluk-makhluk ghaib, nilai-nilai kebenaran mutlak,
apalagi Tuhan itu sendari yang selalu dibutuhkan manusia karena fitrahnya
memang seperti itu.
Karena pentingnya
masalh-masalah tersebut manusia membutuhkan jawaban yang hanya bisa didapatkan
melalui wahyu. Maka alangkah
bijaksananya Allah yang maha Pengasih lagi maha Mengetahui, telah menurunkan
wahyu sepanjang perjalanan hidup manusia yang disesuaikan dengan perkembangan kehdupan
dan kebudayaan masa hidup mereka. Dan kepada kita sebagai ummat akhir zaman
Allah telah mewahyukan Kitab suci Al-Qur’an melalui malaikat Jibril yang
disampaikan kepada manusia terpilih dan berjiwa muli, nabi Muhammad SAW. Dan
hasilnya berobahlah kehidupan manusia yang diselimuti oleh kegelapan menjadi
suatu ummat yang dipenuhi oleh cahaya wahyu yang terang benderang sebagaimana
diakui oleh sejarah.
Allah berfirman dalam
Al-Qur’an Surat 5; al-Maaidah ayat 16 yang artinya:”Dengan kitab itulah Allah
menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan
(dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita
kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke
jalan yang lurus.”
Maka berbahagialah
orang-orang yang dengan rendah hati akalnya tunduk kepada wahyu, Dan alangkah
sengsaranya orang orang yang dengan sombong menolak wahyu untuk menerangi
akalnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar