Senin, 18 Januari 2016

RUMAHKU SORGAKU, ISTERIKU BIDADARIKU

Ya Allah ! Tuhan yang maha Agung, alangkah indahnya semua karunia-Mu, tiada yang mampu menandingi keagungan-Mu.  Engkau lah yang maha pencipta , yang menciptakan makhluk yang paling mulia, berasal dari air yang sangat hina. Ya…  dari setetes air yang hina, kami lahir ke dunia tidak membawa apa-apa, dan tidak memiliki apa apa, tidak mengetahui apa apa, dan tidak bisa  mengatakan apa-apa, dan saat meninggalkan dunia ini pun, kami tak akan membawa apa-apa.

Ya… Engkau menciptakan kami berasal dari nenek moyang yang satu, yaitu Adam, dan dari tulang rusuknya Engkau Ciptakan Hawa, dan dari berkah perkawinan, sekarang sudah menjadi lautan manusia yang bertebaran dimana-mana.

Tapi apakah Anak yang dibesarkan dengan penuh kasih dan sayang, pantas membalas air susu dengan air tuba?.  Ibu! relakan air susumu jadi darah dagingku, Alangkah besar pengorbananmu dalam mengandungku, aLangkah berat beban dan deritamu dalam mendidik dan mengasuhku.

Ayah! Tetesan keringatmu ketika membanting tulang belum bisa aku balas, engkau adalah pahlawanku,  hingga aku bisa dewasa dan berilmu, izinkan kami berdua, bersimpuh dikakimu, mohon do’a dan restu ayah dan juga ibu, agar bahtera rumah tangga kami, bisa selamat menuju pantai impian.

Allah berfirman dalam Surat 30, ar-Ruum ayat 20-21 yang artinya:Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Dan lihatlah betapa banyaknya tanda tanda kekuasaan Allah yang bisa ditemukan kapan dan dimana saja.  Diciptakannya manusia berasal dari tanah, dan tiba-tiba berkembang biak, dan sudah ada dimana-mana. Dilahirkan manusia dalam asuhan bunda, yang menjaga dengan penuh kasih dan sayang . dan sayang bunda itu sepanjang jalan hidup, yang tak bisa diketahui batasnya dimana. Diciptakan manusia berpasang pasangan, dengan naluri saling mencintai, yang tak diketahui cinta itu berasal dari mana, tapi tiba-tiba sudah ada dalam belahan jiwa.

Ya Allah yang maha memberkati! Kasih sayangmu tak pernah berhenti. Engkau beri kepada kami seorang idaman hati, untuk menjadi teman sehidup semati, yang telah lama dinanti nanti.
Ya Allah jadikanlah kami menjadi pasangan yang sakinah, membangun mawaddah dan rahmah, dengan kasih yang melimpah, dan sayang yang tercurah, mahabbah yang berdasarkan ridha Allah, demi menjalankan sunnah Rasulullah. biarkan cinta kami merekah, agar rumah tangga kami indah, dan jangan sampai terpisah, selamanya bersatu padu, bahagia rasanya bagai madu.

Dunia adalah perhiasan, dan sebaikbaik perhiasannya adalah wanita shalehah. Wanita shalihah adalah sebaik-baik keindahan, menatapnya menyejukkan kalbu, mendengarkan suaranya menghanyutkan batin, ia adalah bidadari surga yang hadir ke dunia, untuk menjadi teman berbagi suka dan duka, sebagai obat pelipur lara.  Wanita shalihah adalah isteri yang meneguhkan jihad suami, penebar rahmat dalam rumah tangga, ibu yang mulia bagi anak-anak tercinta. Cahaya bagi dunia dan akhirat, bagaikan sekuntum mawar yang tegar ditengah gelombang kehidupan.

Ya Allah alangkah mudahnya hati kami berbolak balik. Kembalikan jiwa taqwa kedalam hati sanubari kami. Yang membuat kami takut terhadap siksa yang diakibatkan dosa-dosa kami, yang membuat kami tidak kehilangan rasa santun dan kelembutan sehingga hidup kami terasa damai kerena terjauh dari dendam dan permusuhan. Banyak teman yang bagaikan duri dalam daging , sahabat yang bagaikan api dalam sekam, anak  yang bagaikan senjata makan tuan, isteri bagaikan cacing kepanasan, dan suami bagaikan pagar makan tanaman.


Semoga Allah selalu membuka jalan kepada kita untuk menciptakan rumah  kita bagai sorga yang penuh dengan sakinah, mawaddah dan rahmah. jangan sampai dia bagai neraka yang berasa lebih pahit dari empedu karena diisi oleh manusia yang tak perduli dengan hakikat kebenaran dan kejujuran. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar