Alangkah nyamannya perasaan orang yang
merasakan kebahagiaan dalam hidupnya, penuh gairah dan semangat, hubungannya
dengan sesama penuh pengertian dan kasih sayang, sementara hubungannya dengan
Allah langgeng dan mesra, maka iman dan takwanya meningkat amal kebajikannya
bertambah banyak dan semua itulah penopang kebahagiaan.
Kebahagiaan yang dicarinya bukan untuk dirinya
sendiri, tetapi juga ingin dipersembahkannya kepada orang lain, karena ia yakin
bahwa kebahagiaan orang lain tidak akan mengurangi kebahagiaan dirinya, malah
sebaliknya akan menambah kebahagiaan itu.
Harta dapat membantu untuk mencapai
kebahagiaan, tetapi dapat pula mendatangkan kepedihan hidup, karena ada syarat
lain yang harus dipenuhi yaitu rasa syukur, tidak kikir dan tidak tamak serta
cinta dunia yang tak terkendali yang mengakibatkan tidak mau berbagi.
Kekuasaan, pangkat dan kedudukan pun demikian,
bisa mengantarkan kepada kebahagiaan selama digunakan untuk kemaslahatan, namun
kadang-kadang bisa menyebabkan hilangnya kebahagiaan kalau tidak pandai
mengendalikannya. Anak, isteri dan teman-teman yang dahulu disayangi bisa
berubah menjadi musuh dan sasaran kemarahan, bahkan tidak jarang orang rela
mengorbankan teman baiknya demi mencapai kedudukan dan mempertahankannya. Bila
iri dan dengki sudah mendominasi, dendam sudah menguasai diri, fitnah dan adu
domba sudah menjadi kebiasaan, sombong sudah menjadi pakaian, maka seseorang
akan semakin jauh dari bahagia yang dicarinya, karena iri, dengki, dendam,
sombong, fitnah dan adu domba adalah sifat-sifat yang menjadi penyebab
hilangnya kebahagiaan dan ketenteraman hati. Selama sifat-sifat itu bercokol di
dalam hati, maka kegelisahan dan kegalauanlah yang akan dirasakan, bukan
kebahagiaan.
Ilmu Pengetahuan dapat mempermudah hidup,
banyak fasilitas yang di dapat, hiduppun bertambah enak dan lapang, tetapi
kesenangan lahiriah belum tentu membahagiakan, orang yang tak punya anak merasa
sedih, tidak bahagia karena takut hubungan keluarga akan mudah retak disebabkan
tidak punya anak, sebaliknya banyak juga orang yang menderita justru karena
anaknya tidak menghargai dan menyantuninya, sehingga hari tua dihadapinya
dengan penderitaan dan penyesalan, padahal ia mempunyai anak yang kaya, atau
mempunyai kedudukan yang cukup tinggi. Dan alangkah bahagianya orang tua yang
memiliki anak yang shaleh dan berbakti.
Sesungguhnya cara mendapatkan kebahagiaan itu
mudah dan murah serta telah lama ada, yaitu mengikuti ajaran agama yang
diturunkan oleh Allah melalui Rasulnya. Semoga kita menjadi orang berani
berkata: “Bagiku kebahagiaan adalah keridhaan Allah. Dengan cara mengikuti
bimbingan agama yang diturunkan-Nya. Selalu bersabar, bersyukur dan bertawakkal
kepada-Nya”. Dan semoga Allah melimpahkan kerunia-nya kepada semua hamba-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar