Tulisan ini mengharukan, rugi untuk dilewatkan dan sangat pantas untuk di ‘Like” dan dikomentari, Semoga membawa berkah dalam kehidupan kita.
Cit-cita adalah percaya penuh akan masa depan, sebagai pembuka langkah yang dijalani dengan akhtiar dan disudahi oleh takdir, tanpa cita-cita hidup seolah-olah tanpa hakikat, karena cita cita banyak orang menyabung nyawa dan mengorbankan harta . Cita-cita adalah dinamo yang menghilangkan rasa sakit , melupakan kepedihan.
Cita-cita harus diperjuangkan, karena penurunan itu adanya di balik pendakian, cita-citalah yang menghilangkan kelelahan ayah mendidik anak, kepayahan guru mengajar murid dan kepenatan saudagar memikul brang dagangannya.
Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang adalah karena cita-cita orang-orang dahulu sebelum kita, yang karena cita-cita itu ia menderita kesengsaraan, kesukaran dan kepayahan, tetapi mereka tidak kecewa dalam menjalaninya, malah mereka merasakan bahwa itulah nikmat perjuangan, ada yang terbunuh, terbuang dan diasingkan, bergerilya di hutan entah dapat makan atau tidak, bahkan tak sempat menikmati hidup merdeka karena telah menjadi pahlawan yang gugur di medan juang, sesudah hancur daging dan putih tulang mereka, barulah arwah mereka menyaksikan dari celah-celah kubur mereka, bahwa cita-cita mereka untuk merdeka itu telah berhasil dinikmati oleh generasi penerus mereka.
Cita-cita adalah tiang kemajuan dan tongga pergerakan untuk menuju yang diinginkan, kalau kita mau kuat maka tegaklah dengan cita-cita, jangan berhenti bergerak sebelum tujuan tercapai, gantungkan cita-cita itu setinggi langit, tapi tetaplah merendahkan hati serendah mutiara di dasar lautan agar ia tetap berkilau.
Jangan berputus asa, karena setiap hari mata hari masih tetap terbit membawa semangat, untuk apa mengeluh, karena bumi masih belum berhenti menumbuhkan tanaman dan mengembang biakkan binatang ternak. Tataplah hidup dengan gembira dan penuh semangat karena Allah telah menitipkan bumi ke tangan kita, bukan yang lain. Asalkan dalam mengelolanya kita tidak dikuasai tamak, hasad, dengki, iri, dendam dan khianat, yang menjadi sumber kerusakan dapat kita hindarkan dengan iman dan amal saleh kita dan dengan menjaga hablum minallah dan hablum minannas amanah sebagai khalifah Allah dimuka bumi dapat kita jalankan membawa manusia kepada kesejahteraan, kedamaian dan kemakmuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar